Tren Pelemahan Rupiah Tak Pengaruhi Bisnis Kuliner

0
47
Ilustrasi
SURABAYA-ASPEKBISNIS.COM: Meskipun dalam bayangan menurunnya daya beli masyarakat,akibat pengaruh pelemahan rupiah dan laju inflasi, namun bisnis kuliner diprediksi masih sedap -sedap nikmat.
Independent Financial Advisor, Indra Harsaputra mengatakan bisnis kuliner tetap berpotensi mendulang untung meskipun terjadi tren penurunan rupiah.
“Ini dapat dilihat dari tiga emiten kuliner sudah merilis laporan keuangan tahun lalu. Hasilnya, pendapatan ketiga emiten rata-rata tumbuh. Adapun laba bersih bervariasi, “ kata Indra di Surabaya kemarin
MAP Boga Adiperkasa (MAPB), misalnya, kata Indra, meraih laba 2017 senilai Rp 94,46 miliar. Namun dari tiga emiten kuliner, Pioneerindo Gourmet International (PTSP) pemegang lisensi makanan cepat saji KFC mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada tahun lalu, yakni 208% menjadi Rp 7,88 miliar. Walau pun laba bersihnya tumbuh, saham PTSP stagnan.
“Peningkatan pendapatan sebenarnya menandakan konsumsi masyarakat baik, “ katanya.
Seperti yang diketahui, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini mencapai 5,4%. Pertumbuhan tersebut dapat terealisasi seiring dengan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 8,71% pada tahun ini, sehingga memicu meningkatkan daya beli masyarakat.
“Pelemahan rupiah akibat kondisi global menjadi tantangannya. Akibat pelemahan rupiah, maka  inflasi kemungkinan bisa naik sebesar 3,5 persen-3,8 persen pada kuartal kedua dan ketiga, “ kata Indra.
Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,4% ke posisi Rp 14.003 per dollar Amerika Serikat (AS). Ini jadi posisi terlemah rupiah selama 28 bulan terakhir. Hari ini pun rupiah kembali melemah ke Rp 14.043 per dollar AS.
Indra mengatakan jika mengacu pada fundamental ekonomi Indonesia saat ini, level wajar rupiah saat ini adalah 13.600-13.700 per dollar AS.
“Kita tidak perlu terlalu panik. Sebab pelemahan rupiah juga bukan yang terburuk. Namun pemerintah juga harus segera membuat paket kebijakan ekonomi untuk menarik investor asing kembali, “ katanya.
Pelemahan rupiah, kata Indra juga berpotensi kenaikan harga bahan pangan seperti bawang putih, gula, dan beras yang masih diimpor.
“Apalagi jelang Ramadan yang biasanya terjadi kenaikan harga bahan pokok. Saat ini telur ayam naik ke harga Rp 26 ribu dari harga Rp 21 ribu, “ ujarnya.
Indra mengatakan bisnis kuliner akan tetap mendulang untung asalkan terus berinovasi mulai dari menu masakan hingga portofolio keuangan.
“Pada dasarnya manusia tetap butuh makan. Inovasi diperlukan agar pembeli tidak bosan. Inovasi juga diperlukan ke dalam mengelola aset dan portofolio keuangan,” pungkas Indra (*/DRA)