Semoga Rupiah Bisa Kembali Menguat

0
40
Independen Financial Advisor Indra Harsaputra (Foto: Istimewa)
SURABAYA-ASPEKBISNIS.COM: Jika menginginkan nilai rupiah stabil maka inflasi di Indonesia harus sama dengan inflasi di Amerika Serikat. Atau jika ingin rupiah menguat, maka inflasi di Indonesia harus lebih rendah daripada inflasi di AS.
Apakah kita perlu kuatir dengan pelemahan rupiah ?
Secara umum pelemahan nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran terhadap rupiah. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah aktivitas ekspor-impor serta pergerakan investasi dari dan ke luar negeri.
Dalam sepekan terakhir Investor asing mulai menjual saham berkapitalisasi besar. Nilainya lebih dari Rp 30 Triliun sepanjang tahun berjalan 2018.
Keluarnya investasi portofolio asing ini pun diikuti penurunan nilai tukar Rupiah, karena dalam proses ini, investor menukar Rupiah dengan mata uang negara lain untuk diinvestasikan di negara lain. Artinya, terjadi peningkatan penawaran atas Rupiah. Adapun indikasi dari keluarnya investasi portofolio asing ini bisa dilihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung menurun seiring dengan kecenderungan menurun dari Rupiah.
Kenapa investasi portofolio asing ini keluar dari Indonesia?  Sepanjang sejarahnya, alasan selalu sama; the Fed (bank sentral AS) untuk mengurangi Quantitative Easing (QE).
QE di sini adalah program the Fed untuk mencetak uang dan membeli obligasi atau aset-aset finansial lainnya dari bank-bank di AS. Program ini dilakukan untuk menyuntik uang ke bank-bank di AS demi pemulihan diri pasca-krisis finansial 2008.
Rencana pengurangan QE memberikan pesan bahwa ekonomi AS menyehat. Karenanya, nilai tukar obligasi dan aset-aset finansial lain di AS akan naik. Inilah ekspektasi para investor portofolio yang mengeluarkan modalnya dari negara-negara emerging markets. Mereka melihat bahwa di depan, investasi portofolio di AS akan lebih menguntungkan daripada di negara-negara emerging markets.
Langkah The Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) atau 0,25 persen. Dengan demikian berarti pada akhir 2018 suku bunga acuan The Fed menjadi 1,5 persen – 1,75 persen. Suku bunga atraktif itulah yang membuat investor asing menarik dana-dananya dari pasar saham, obligasi, pasar valas, dan instrumen investasi lainnya di dalam negeri. Situasi ini akan membuat rupiah tersungkur. Semakin rupiah terpuruk, semakin besar potensi penarikan dana asing dari Indonesia.
Kurs rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) sudah melewati Rp 14.000 per dollar AS.Pada perdagangan di pasar spot pada Selasa (8/5/2018), kurs rupiah ditutup di level Rp 14.052 per dollar AS, melemah 0,3 persen dibandingkan kurs penutupan Rp 14.001 pada Senin (7/5/2018).
Apakah tren pelemahan rupiah akan berlanjut ?
Faktor lain yang sangat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah adalah inflasi sebagaimana dijelaskan oleh teori paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP).
Menurut teori ini, inflasi saat ini dan perkiraan inflasi ke depan sangat mempengaruhi arah nilai tukar mata uang suatu negara. Negara dengan tingkat inflasi yang lebih tinggi akan mengalami pelemahan nilai tukar yang berkelanjutan.
Seperti diketahui, Angka inflasi Amerika Serikat (AS) sebesar 0,2 persen di Februari 2018 setelah lonjakan yang dicatatkan di Januari 2018 yang sebesar 0,5 persen. Secara tahunan (year-on-year/ yoy), inflasi AS tercatat 2,2 persen atau lebih tinggi dari 2,1 persen di bulan sebelumnya.
Sedangkan di Indonesia, Bank Indonesia mencatat laju inflasi pada minggu ke-3 April 2018 akan mencapai 0,12 persen. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan bulan sebelumnya yang menembus 0,2 persen. Inflasi year on year tercatat 3,4 persen.
Dari data inflasi tersebut maka untuk menghitung nilai tukar akibat perbedaan inflasi di kedua negara adalah dengan mengalikan nilai tukar rupiah periode sebelumnya dengan faktor perbedaan inflasi (1+perbedaan inflasi).
Nilai tukar rupiah terhadap Maret Rp 13.800 per dollar AS. Sementara inflasi di Indonesia sampai (yoy) 3,4 persen atau lebih tinggi 1,2 persen dibandingkan inflasi di AS. , maka nilai tukar rupiah berdasarkan rumus PPP secara sederhana adalah Rp 13.800 dikalikan faktor inflasi (1+1,2%). Hasilnya nilai tukar rupiah adalah Rp13.965 per USD.
Jadi menurut teori PPP, jika menginginkan nilai rupiah stabil maka inflasi di Indonesia harus sama dengan inflasi di Amerika Serikat. Atau jika ingin rupiah menguat, maka inflasi di Indonesia harus lebih rendah daripada inflasi di AS.
Dengan demikian untuk meredam fluktuasi nilai tukar rupiah maka pemerintah harus tetap mempertahankan inflasi diangka 2,5 persen – 4,5 persen.
Selain itu BI juga harus menaikkan suku bunga acuan untuk menarik kembali investor asing. BI dan Pemerintah melakukan intervensi di pasar sekunder SUN, karena pasar sekunder SUN sangat berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Namun apabila BI hanya melakukan intervensi di pasar valas kebijakan tersebut dianggap tidak memberikan pengaruh sama sekali, karena dari sisi teknikal di pasar valas akan terjadi  fluktuasi nilai tukar. Sehingga diperlukan dukungan koordinasi yang kuat antara Bank Indonesia dengan Pemerintah dalam menjaga ketahanan perekonomian Indonesia dalam memantau pasar sekunder SUN.
Penulis  : Independent Financial Advisor, Indra Harsaputra