Musim Hujan Pertama Pasca Kenaikan BI Rate

0
77
Independen Financial Advisor Indra Harsaputra (Foto: Istimewa)
SURABAYA-ASPEKBISNIS.COM: Meskipun Bank Indonesia telah sudah menaikkan bunga acuan 7-day repo rate (7-DRR) menjadi 4,75 persen, namun investor asing masih menganggap tingkat bunga itu masih rendah. Sebab, inflasi Indonesia berkisar 3,6–4,5 persen sehingga tingkat keuntungan riil masih tipis.
Surabaya dan sekitarnya diguyur hujan ringan, Selasa (5/6) pagi tadi. Ini adalah hujan pertama setelah Bank Indonesia  menaikkan suku bunga acuan pada akhir Mei lalu.
Dalam tempo dua pekan, Bank Indonesia dua kali mengerek suku bunga acuan BI 7-day repo rate (7-DRR). Kamis (17/5), bank sentral menaikkan bunga 25 basis poin menjadi 4,50%. Terakhir, Rabu (30/5), bunga acuan BI kembali naik 25 basis poin menjadi 4,75%.
Kebijakan kenaikan suku bunga acuan ini merespon kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve sebesar 1,5 persen dan 1,75 persen Maret lalu, yang berdampak pada iklim investasi di Indonesia.
Kenaikan suku bunga bak angin segar. Pelaku pasar merespon positif. Alhasil nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat 3,39 persen menjadi Rp6.685,13 triliun dari Rp 6.466,18 triliun.
Rata-rata frekuensi transaksi harian saham di BEI selama sepekan terakhir juga meningkat 2,8 persen yakni menjadi 408,38 ribu kali transaksi dari 397,24 ribu kali transaksi pada pekan lalu.
Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian mengalami perubahan 6,01 persen menjadi Rp8,29 triliun dari Rp8,82 triliun sepekan sebelumnya.
Sedangkan, rata-rata volume transaksi harian pada pekan ini mengalami perubahan 0,25 persen menjadi 8,99 miliar unit saham dari 9,01 miliar unit saham.
Investor asing mulai melakukan aksi beli bersih sebesar Rp867 miliar di sepanjang pekan ini walaupun secara tahunan investor asing masih tercatat mengakumulasi jual bersih senilai Rp 40,16 triliun
Hari ini, IHSG diperkirakan berada di kisaran support 5984 – 5996 dan resisten 6032 – 6055. Sebelumnya, IHSG naik 31,23 poin atau 0,52 persen lebih tinggi dibandingkan pelemahan sebelumnya yang turun 27,47 poin atau 0,46 persen.
Tidak hanya IHSG, pergerakan positif juga terjadi pada rupiah. Di pasar spot, rupiah berhasil ditutup di level Rp13.867 per dolar AS atau menguat 0,17 persen jika dibandingkan sesi penutupan pekan lalu.
Meskipun demikian pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap sentimen-sentimen yang dapat membuat IHSG dan rupiah kembali melemah.
Apalagi The Fed diprediksi akan menaikkan kembali Fed Fund Rate dalam rapat petinggi bank sentral Amerika Serikat (AS) pada 12-13 Juni mendatang.
Tidak hanya AS, sejumlah negara di Eropa pun sudah mengambil ancang-ancang untuk menaikkan suku bunga karena pemulihan ekonomi di Benua Biru semakin terlihat.
Ketika AS dan Eropa sudah menaikkan suku bunga, maka akan lebih banyak dana yang keluar ke kawasan-kawasan tersebut. Investor memiliki lebih banyak pilihan. Akibatnya kemungkinan arus modal keluar (capital outflow) yang dirasakan Indonesia akan lebih signifikan.
Apalagi investor asing memegang 40,42% dari Surat Berharga Negar (SBN) domestik yang dapat diperdagangkan.
Saat suku bunga AS naik, investor asing cenderung keluar dari pasar SBN meski sifatnya sangat temporer.
Saat kenaikan Fed Fund Rate 14 Maret 2017 lalu misalnya, posisi kepemilikan investor asing di SBN tercatat Rp 763,92 triliun tetapi turun menjadi Rp 763,86 triliun pada 15 Maret dan turun lagi menjadi Rp 763,84 triliun pada 16 Maret. Namun pada 17 Maret, investor asing kembali masuk sehingga kepemilikan mereka naik lagi menjadi Rp 701,58 triliun
Kemudian pada kenaikan Fed Fund Rate edisi 14 Juni 2017, kepemilikan asing yang sebesar Rp 763,92 triliun turun sedikit menjadi Rp 763,86 triliun keesokan harinya. Pada 16 Juni nilainya kembali turun menjadi Rp 763,84 triliun, tetapi pada 19 Juni asing kembali masuk dan menambah kepemilikannya menjadi Rp 763,86 triliun.
Lalu pada kenaikan suku bunga berikutnya pada 13 Desember, kepemilikan asing yang sebesar Rp 834,54 triliun justru naik pada hari berikutnya menjadi Rp 835,72 triliun.
Itu artinya pelaku pasar sendiri sudah bisa mencerna informasi kenaikan suku bunga dengan rasional sehingga tidak ada kepanikan. Tetapi kondisi tahun ini agak berbeda jika beberapa negara di Eropa ikut menaikkan suku bunga acuan mereka.
Apalagi ketegangan geopolitik, potensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, serta potensi krisis Italia dan Uni Eropa, berpeluang menekan pasar modal.
BI harus tetap selalu ahead the curve atas potensi naiknya bunga The Fed. Bunga acuan BI saat ini belum maksimal meredam pelemahan rupiah jika belum sampai ke level 7,5 persen.
Berdasarkan data BI, ketika bank sentral masih menggunakan BI Rate sebagai bunga acuan, tingkat bunga itu pernah mencapai 7,75 persen pada akhir 2014, dan stabil di level 7,50 persen pada hampir sepanjang 2015.
Kemudian mulai awal 2016, BI Rate berangsur turun menjadi 7,25 persen, hingga akhirnya mencapai 6,50 persen pada Juli 2016.
Berkaitan dengan upaya penguatan kerangka operasi moneter, BI memperkenalkan suku bunga acuan atau suku bunga kebijakan baru yaitu BI 7-Day Repo Rate, yang berlaku efektif sejak 19 Agustus 2016.
Saat itu, BI 7-Day Repo Rate berada di level 5,25 persen.
Pada saat BI Rate berada di tingkat 7,5 persen, nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI, sempat menyentuh titik terlemah di 14.728 rupiah per dollar AS pada 29 September 2015.
Pergerakan rupiah itu dinilai serupa dengan kondisi bulan lalu ketika mata uang RI kembali menembus titik terlemah sejak September 2015 di level 14.200 rupiah per dollar AS.
Jadi, BI masih memiliki cukup ruang untuk menaikkan suku bunga acuan guna mencegah pelarian modal asing (capital outflow) dari pasar Indonesia. Menaikkan kembali bunga acuan BI merupakan konsekuensi yang tidak terelakkan. Sebab, rupiah masih terancam dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada waktu-waktu mendatang.
Apa yang harus dilakukan investor dalam negeri ?
Kenaikan suku bunga acuan BI meningkatkan performa obligasi, baik obligasi pemerintah maupun korporasi.
Obligasi merupakan salah satu Efek yang tercatat di Bursa di samping Efek lainnya seperti Saham, Sukuk, Efek Beragun Aset maupun Dana Investasi Real Estat. Obligasi dapat dikelompokkan sebagai efek bersifat utang di samping Sukuk. Obligasi dapat dijelaskan sebagai surat utang jangka menengah panjang yang dapat dipindahtangankan, yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Obligasi dapat diterbitkan oleh Korporasi maupun Negara.
Sedangkan untuk investor yang memiliki toleransi terbatas terhadap volatilitas pasar dan horizon investasinya pendek hingga menengah, bisa memperbesar penempatan dana di reksadana pendapatan tetap yang memiliki fitur pembagian dividen secara reguler. Sementara, investor dengan profil risiko tinggi sebaliknya dapat melirik saham maupun reksadana saham.
Investor juga dapat memilih reksadana saham dengan aset dasar saham big caps yang fundamentalnya kuat. Contohnya, saham atau reksadana yang berbasis indeks IDX30 atau LQ45.
Sedangkan untuk instrumen deposito, meskipun likuiditas bank masih cukup besar, namun kenaikan suku bunga acuan tidak langsung mengerek bunga deposito dibandingkan kenaikan suku bunga pinjaman. Imbasnya, pendapatan bunga bersih (NIM) bank turun, pertumbuhan kredit berpotensi melambat.Memang kenaikan suku bunga BI tidak langsung menohok pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Namanya saja hujan pertama di awal bulan ini. Kesegarannya sedikit tapi cukuplah membasahi dahaga cuaca 34 derajat Celsius ini.
Penulis : Independent Financial Advisor and Tax Planning Services ,Indra Harsaputra