“Bom Bunuh Diri” Itu Kejahatan Harus di Lawan

0
46
Salah satu lokasi kejadian bom bunuh diri yang dilakukan teroris di Surabaya (Foto: Istimewa)
SURABAYA-ASPEKBISNIS.COM: Terorisme bukanlah bertujuan demi kepentingan agama. Tetapi terorisme pernah dilakukan oleh manusia dari berbagai agama dan latar belakang budaya. Tujuannya tetap saja untuk kepentingan kelompok tertentu menguasai negara (Crimes against State).
Indonesia berduka. Dua hari berturut (13/05- 13/05) Surabaya digoncang aksi bom bunuh diri. Tercatat 28 orang tewas dan 57 orang terluka akibat serangkaian bom bunuh diri di Surabaya. Seluruh korban ialah sipil.
Korban tewas termasuk orang tidak bersalah (Public by innocent) dan pelaku. Sementara yang terluka beberapa diantaranya anggota kepolisian. Sebelum kejadian di Surabaya. Enam anggota Kepolisian tewas dalam serangan di Mako Brimob Depok. Mereka tewas dalam tugas menjaga tahanan narapidana teroris di Mako Brimob.
Inilah kejahatan terorisme yang memang selalu memakan korban sipil (Crimes against Humanity). Pasal 7 Statuta Roma European Convention on the Suppression of Terrorism, tahun 1977 tegas menyebutkannya. Terorisme merupakan bagian dari serangan meluas atau sistematik yang ditujukan kepada suatu kelompok penduduk sipil.
Itulah sebabnya Crimes against Humanity masuk kategori Gross Violation of Human Rights (Pelanggaran HAM Berat).Pada tahun 1937 tindak terorisme sudah dikategorikan sebagai perbuatan kejahatan terhadap negara (Crime Against the State). Lahirlah kemudian
Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Terorisme (Convention for the Prevention and Suppression of Terrorism).Walter Laqueur setuju dengan hal itu. Dalam bukunya berjudul
“History of Terorism” ia mendefisinikan terorisme sebagai cara penggunaan kekuatan secara tidak sah untuk mencapai tujuan-tujuan politik.
Tidak hanya memakan korban jiwa, bom bunuh diri di Surabaya juga menyebabkan rupiah kembali tersungkur. Rupiah bergerak melemah sebesar 25 poin menjadi Rp 13.968 dibanding posisi sebelumnya Rp 13.943 per dolar AS.
Melansir Bloomberg Dollar Index, Selasa (15/5/2018) pukul 08.34, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 29 poin atau 0,21% ke level Rp14.002 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp13.989-Rp14.002 per USD.
Meskipun mengalami tekanan (juga faktor pengaruh ekonomi global), namun perekonomian di Jawa Timur tetap stabil, tidak terpengaruh serangkaian bom bunuh diri di Surabaya.
Perbankan, perkantoran dan pusat bisnis tetap beroperasi. #Wani (berani) begitulah tagar Arek-arek Suroboyo melawan terorisme di media sosial.
Istilah `teroris’ dan `terorisme’ pertama kali muncul pada masa Revolusi Prancis 1789. Nama ini disematkan untuk menyebut kelompok penentang raja.
Di Rusia ada kelompok Black Hundred. Kelompok ini fasis ini merupakan pendukung setia House of Romanov. Doktrin terkenal kelompok ini ialah Ukrainophobia (sentimen anti negara Ukraina).
Dal Buku lainnya. Judulnya “The History of Terrorism From Antiquity to Al Qaeda” (Gerard Chaliand dan Arnauld Blin) mencatat di zaman Romawi muncul  kelompok teroris Dagger Men atau Sicarri (dari kata sica, sejenis pisau pendek yang disembunyikan di balik jubah). Kelompok ini dimotori klan Zaelot, salah satu kelompok Yahudi yang berafiliasi dengan politik tertentu dan bermukim di tanah Yudea.
Sicarri “manusia belati” menciptakan teror bawah tanah dengan cara membunuh pasukan pendudukan Romawi serta setiap orang Yahudi yang dirasa telah bekerja sama dengan Romawi. Motifnya kaum Yahudi tidak bisa tetap setia pada perintah-perintah agama Yahudi selama menjadi bagian dari Romawi.
Sekitar abad 12,  di Iran pernah muncul Assasin (The Order of the Assassins). Penggerak kelompok ini ialah sebuah faksi sempalan dari Syiah Ismailiyah Nizari yang dipimpin Hassan Sabbah. Kebanyakan target kelompok Assasin ini berasal dari penguasa politik Dinasti Abbasiyah dan Seljuk.
Selain Zealot, Assasin, dan Black Hundred dikenal juga kelompok Thugee, sebuah kelompok teroris Hindu yang muncul pada 1356. Aksi mereka berlangsung lebih dari empat abad.
Dalam pidatonya, Presiden Joko Widodo menyatakan terorisme ialah kejahatan kemanusiaan dan tidak ada hubungannya dengan agama manapun dan merupakah musuh dari agama manapun.
Penulis :  Indra Harsaputra (GUSDURIan)