Berkah Lebaran Bagi Emiten Telekomunikasi

0
71
Independent Financial Advisor and Tax Planning Services, Indra Harsaputra (Foto: Istimewa)
SURABAYA-ASPEKBISNIS.COM: Lebaran selalu menjadi berkah bagi emiten sektor telekomunikasi dan konsumer. Meski demikian laju Indeks Hatga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi tetap bergerak di teritori negatif jelang liburan Lebaran.
Suasana pusat belanja gadget di WTC Surabaya sangat riuh, Kamis (7/6). Tidak hanya di dalam, diluar gedung pun suara pedagang saling bersahutan dengan bunyi klason kendaraan bermotor.
Suasana inilah yang paling diharapkan pedagang gadget bekas di pinggir jalan sekitar WTC. Satu keluarga pun dikerahkan bak pasukan “rela panas” yang bertugas mencari pembeli.
“Itu diujung disana adik termuda. Di tengah depan hotel itu kakak tertua saya. Istri dan anak saya di depan jalan. Sedangkan 10 keponakan saya tugasnya duduk di depan penjual sambil pura-pura menawar, “ kata Mahmud, salah satu pedagang.
Riset Nielsen yang dirilis 6 Juni 2018 menyebutkan Tunjangan Hari Raya mendorong keinginan konsumen untuk membeli perangkat smartphone baru. Selama bulan Ramadhan tahun ini, ditemukan adanya peningkatan kepemilikan smartphone sebesar 7% dan juga rencana untuk membeli smartphone mengalami peningkatan 4 kali lipat.
“Saya tahu model gadget baru dari televisi. Saya langsung minta mami sebagai hadiah ulang tahun, “ kata Brian, lelaki yang baru lulus Sekolah Dasar (SD) asal Sidoarjo sambil memamerkan gadget barunya.
Masih berdasarkan riset Nielsen, pada Ramadhan tahun ini, ada perubahan pada pola konsumsi konsumen serta strategi pemilik brand.  Jumlah penonton TV di 11 kota besar meningkat dari rata-rata 5,9 juta per hari menjadi 7 juta per hari, dengan dominasi peningkatan jumlah penonton di waktu sahur. Konsumsi media TV meningkat seiring dengan meningkatnya durasi menonton, yang biasanya rata-rata menonton TV hanya 4 jam 53 menit, di bulan Ramadhan meningkat menjadi 5 jam 19 menit.
Bulan Ramadhan juga memunculkan kecenderungan untuk menonton TV bersama keluarga dengan adanya peningkatan co-viewing untuk anak usia 5-14 tahun yang ditemani oleh penonton usia 20 tahun ke atas meningkat sebesar 31%.
Tak hanya televisi yang mengalami peningkatan konsumsi, selama bulan Ramadhan konsumen yang mendengarkan radio juga meningkat 13 persen, menjelajahi internet meningkat 9 persen dan yang menonton bioskop meningkat 17 persen. Menariknya, peningkatan jumlah pendengar radio yang paling besar ditemui di dua kota yang menjadi tempat terselenggaranya Asian Games ke-18 yaitu, Jakarta (+10%) dan Palembang (+23%). Di kedua kota ini pun terjadi perubahan kebiasaan dalam mendengarkan radio, yaitu pendengar lebih banyak mendengarkan radio melalui radio tape selama bulan Ramadhan sedangkan di periode sebelumnya lebih banyak menggunakan handphone.
“Perubahan kebiasaan, seperti peningkatan kepemirsaan TV, peningkatan jumlah TV co-viewing dan berubahnya medium yang digunakan untuk mendengarkan radio dari personal device (HP) menjadi collective device (radio tape), mengindikasikan bahwa bulan Ramadhan membuat orang cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di rumah,” kata  Executive Director Media Business, Nielsen Indonesia,Hellen Katherina,
Sedangkan untuk fungsi pemakaian gadget, Google Indonesia menyebutkan watch time pengguna YouTube di Indonesia meningkat hingga 50% selama bulan puasa. Menurut Nielsen Consumer & Media View, konsumen menghabiskan waktu 3 jam 17 menit untuk mengakses internet, peningkatan penggunaan internet yang paling tinggi ditemukan setelah buka puasa (pukul 19.00-21.59) sebesar 12%.  Sementara yang paling banyak diakses adalah video, berita lokal maupun internasional dan belanja online.
Konsumsi data ini membawa berkah bagi sejumlah emiten telekomunikasi, seperti PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT).
TLKM misalnya tahun 2017 membukukan pendapatan senilai Rp 128,26 triliun, atau tumbuh 10,25% dari Rp 116,33 triliun pada 2016.
Meskipun demikian emiten telekomunikasi itu kompak membukukan penurunan laba bersih pada kuartal I 2018 lalu. Penurunan laba bersih ini akibat
aturan registrasi SIM card. TLKM misalnya, mencetak penurunan laba bersih 14,3% menjadi Rp 5,7 triliun. Laba bersih EXCL turun 66,8% menjadi Rp 15 miliar.
Laba bersih menurun, tapi tidak dengan penggunaan data internet. TLKM membukukan kenaikan pendapatan 23,26% menjadi Rp 15,92 miliar untuk penggunaan data saja. Total pendapatan EXCL tumbuh 4,46% menjadi Rp 5,5 miliar. Dari total tersebut, sekitar 63% merupakan kontribusi dari penggunaan data internet.
Return on Equity (ROE) TLKM berpotensi mencapai sebesar 20% di akhir tahun ini. ROE itu merupakan indikator tingkat profitabilitas yang mengacu pada tingkat pengembalian laba terhadap modal. Investor cenderung mengakumulasikan saham-saham yang angka ROE-nya relatif tinggi.
Pendapatan Telkom sepanjang tahun lalu itu dikontribusikan dari pendapatan telepon. Angkanya senilai Rp 43,91 triliun. Kemudian, pendapatan interkoneksi memberikan kontribusi terhadap pendapatan sebesar Rp 5,17 triliun, pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika Rp 68,53 triliun, pendapatan jaringan Rp 1,87 triliun, dan pendapatan lainnya Rp 8,76 triliun. Selanjutnya, aset perseroan melonjak menjadi Rp 198,48 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 179,61 triliun.
TLKM pun sukses mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG ditutup menguat 1,23% atau 73,97 poin di level 6.088,79, setelah dibuka dengan kenaikan 0,28% atau 16,55 poin di level 6.031,37.
Pada perdagangan Senin (4/6/2018), indeks berhasil membukukan rebound dan berakhir menguat 0,52% atau 31,23 poin di posisi 6.014,82. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 6.025,56 – 6.088,79.
Emiten telekomunikasi menjadi pendorong utama atas reli IHSG untuk hari kedua, dengan saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) menguat lebih dari 5%. Saham emiten HMSP dan UNVR konsumer juga ikut menjadi pendorong.
Meskipun IHSG Kamis pagi (7/6) dibuka rebound, namun jelang cuti panjang Hari Raya Lebaran, risiko pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membayangi bursa saham domestik.
Resiko penurunan itu dipengaruhi sentimen negatif dari penurunan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari Bank Dunia (World Bank) yang hanya sebesar 5,2 persen. Prediksi ini lebih rendah dari target pemerintah yaitu sebesar 5,4 persen. Padahal, sebelumnya Bank Dunia sempat optimis pertumbuhan ekonomi tahun ini dapat menyentuh 5,3 persen.
Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves sebelumnya menjelaskan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ini disebabkan meningkatnya risiko dalam ekonomi domestik, salah satunya perlambatan kinerja ekspor.
Faktor lain yang mendorong resiko pelemahan ialah lantaran investor jangka pendek alias trader bisa saja memanfaatkan momentum ini untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking).
Namun, disisi lain, harga saham yang melemah akibat aksi ambil untung merupakan peluang bagi investor jangka menengah dan panjang untuk melakukan akumulasi beli.
“Pak, parkir yang bener ya. Jangan sampai bikin macet, “ teriak petugas Satpol PP kepada salah satu pengemudi taxi online.
Meski tarif parkir di Surabaya naik, namun setidaknya tidak menganggu pengguna jalan yang lain; termasuk Mahmud dan keluarganya yang berjualan gadget.
Penulis : Independent Financial Advisor and Tax Planning Services, Indra Harsaputra