Apa Untungnya “Stress test” Bagi Investor ?

0
49
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
SURABAYA-ASPEKBISNIS.COM: Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah. Rabu sore (09/05), kurs rupiah ditutup di level Rp14.080 per dolar AS, yang merupakan titik terendah dalam waktu lebih dari dua tahun belakangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun melakukan stress test. Hasilnya perbankan Indonesia masih cukup kuat meski dolar AS tembus ke level Rp20.000.
Melakukan stress test bagi suatu bank, sebetulnya suatu hal yang rutin, karena diwajibkan oleh regulator. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomer 34 / SEOJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Resiko bagi Bank Umum.
Stress test memang dapat menggambarkan kemampuan bank untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dalam kondisi krisis, yang didasarkan pada berbagai skenario. Penetapan cakupan dan frekuensi stress test harus sesuai dengan skala dan kompleksitas usaha, serta eksposur risiko likuiditas bank.
Secara umum, perhitungan stress test menggunakan dua pendekatan yaitu ; bottom-up dan top-down. Bottom-up stress-test bertujuan untuk menilai ketahanan industri keuangan dan perbankan yang didapatkan dengan menggabungkan ketahanan  institusi keuangan dalam merespon guncangan yang terjadi sehingga diperoleh dampak secara agregat. Mayoritas perhitungan stress-test menggunakan metode bottom-up dilakukan secara parsial, dan terintegrasi.
Sementara metode top-down stress-test dilakukan untuk melihat kerentanan industri perbankan atau korporasi secara agregat yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan. Berbeda dengan bottom-up stress-test yang menggunakan data dan model internal, top-down stress-test dilakukan oleh otoritas dan dihitung dengan menggunakan asumsi, model, dan perlakuan yang sama untuk semua bank atau korporasi.
Sejak lama Bank Indonesia telah secara rutin melakukan top-down stress-test bagi keseluruhan bank umum dengan menggunakan balance sheet approach terhadap tiga risiko utama bank, baik secara parsial maupun terintegrasi. Selain itu, metode top-down juga digunakan dalam perhitungan macro stress-test.
Bank Indonesia terakhir mengumumkan hasil stress test perbankan pada tahun 2014. Hasilnya bisa dilihat di website www.bi.go.id. Namun hasil stress test tidak diumumkan secara terbuka nama-nama bank yang dalam kategori berpotensi “sistemik”.
Apakah stress test bisa dipublikasikan dan apa untungnya ?
Untuk pertama kalinya sejak 2009, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) merilis secara terbuka hasil stress test perbankan ke publik. Tidak hanya The Fed, Bank Sentral Spanyol (Bank of Spain), juga sudah memutuskan mempublikasikan hasil stress test perbankan negara itu.
Pengalaman The Fed mengumumkan hasil uji stress perbankan telah menghasilkan efek positif pada perekonomian. Pertama, sentimen investor membaik, karena kehadiran informasi tersebut memungkinkan mereka untuk lebih mampu menilai risiko untuk pengambilan keputusan investasi. Ini berarti bahwa aliran modal swasta di sektor keuangan akan meningkat, dan bunga obligasi bank dan utang lainnya akan menurun. Kedua, sangat perlu untuk lulus uji yang sama perbankan sudah harus meningkatkan modalnya.
Sedangkan di Indonesia, meskipun sudah ada UU No. 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) namun pada pasal 17 huruf e (6) UU tersebut disebutkan, proses dan hasil pengawasan perbankan masuk kategori informasi yang dikecualikan, sehingga masyarakat tidak dapat mengakses informasi seperti hasil stress test perbankan.
Tidak hanya perbankan, beberapa penyedia jasa asuransi umum dan lembaga keuangan non bank dengan portofolio investasi di pasar modal juga telah melakukan uji skenario kekuatan atau stress test untuk mengukur ketahanan perusahaan di tengah kurang kondusifnya IHSG dan nilai tukar rupiah.
Penulis : Independent Financial Advisor, Indra Harsaputra